REPUBLIKA.CO.ID, PATTANI
-- Konflik puluhan tahun di Selatan Thailand, melonggarkan tali persaudaraan
antara komunitas muslim Pattani dan masyarakat Thailand yang mayoritas Buddha.
Sejatinya, keduabelah pihak tentu tidak menginginkan tali persaudaraan lebih
banyak diisi dengan saling benci dan curiga.
Beragam upaya dilakukan
untuk mempererat kembali tali persaudaraan itu. Salah satunya melalui olahraga,
khususnya sepakbola. Mengapa sepakbola? Sebab bahasa dalam sepakbola dianggap
memudahkan kedua belah pihak yang berbeda secara budaya untuk saling berbaur
satu sama lain.
"Kami tidaklah
berbeda, baik Muslim, Budha atau Kristen," ungkap Samae Samak, salah
seorang muslim muda, seperti dikutip onislam.net, Senin (21/5). "Kita
semua adalah teman," tambah dia.
"Di Pattani, tidak
peduli seberapa jauh orang hidup atau jika ada kejadian, mereka datang untuk
menonton pertandingan sepak bola," kata Pitsarok Rujakat, pemain Buddha
yang berasal dari utara negara itu menimpali koleganya itu.
Dalam pertandingan itu,
komunitas muslim bergabung dalam klub Pattani FC, dan saudara mereka, yang
beragama Buddha tergabung dalam tim Narathiwat FC. Pertandingan berlangsung di
Stadion Rainbow, Pattani.
Presiden Asosiasi
Perempuan Selatan untuk perdamaian, Huda Longdewaa mengatakan permasalahan yang
terjadi di Selatan adalah terlalu banyak tentara. "Perdana Menteri
memerintahkan adanya darurat militer, tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah
apapun," katanya.
Sebagai respon dari
berbagai pihak, milter Thailand coba melakukan pendekatan lain. Tepatnya,
sebulan yang lalu, tentara-tentara Thailand mulai mengunjungi sebuah masjid di
desa Bangma di Pattani setiap Ahad guna membahas masalah konflik dengan para imam.
Tidak hanya membahasa masalah konflik, para imam juga memberikan penjabaran
tentang dasar Islam dan bahasa Melayu.
"Mereka tidak tahu
banyak. Tugas kami untuk memberikan mereka pengetahuan tradisi lokal,"
kata salah seorang imam, Kono Samae.
Thailand memiliki
populasi Muslim sekitar 9,5 juta, banyak dari mereka tinggal di daerah
pedesaan. Mereka umumnya beretnis melayu.
Lebih dari 5.000 orang
tewas di Thailand selatan sejak kekerasan meletus hampir delapan tahun lalu.
Redaktur: Hazliansyah
Reporter: Agung Sasongko
Sumber: onislam.net
Categories:
Semua Entri,
Suara Dunia Islam







