Kita semua sepakat bahwasanya setiap muslim siapa pun dia orangnya, mulai dari para pejabat, penjahat, orang-orang yang bermalas-malasan dalam beribadah, orang-orang yang hanya IslamKTPnya, mereka semua pasti ingin mendapatkan dua hal, dan ingin terhindar dari dua hal. Hal ini terbukti minimal dari do’a yang senantiasa mereka panjatkan setiap sehabis shalat maupun do’a-do’a yang mereka panjatkan dalam even-even tertentu, do’a tersebut adalah do’a yang mereka sebut dengan do’a “sapujagat” “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannar”.
 Bahkan orang kafir pun menginginkannya. Dua hal yang ingin mereka raih adalah ridha Allah dan surga-Nya, dan dua hal yang ingin mereka jauhi adalah kemurkaan Allah dan neraka-Nya.

Namun sedikit sekali dari mereka yang mengerti jalan untuk menuju ke sana. Sehingga mereka hanya sekedar berdo’a namun tidak disertai dengan usaha-usaha yang dapat menghantarkan mereka kepada tujuan yang mereka inginkan. sebenarnya ada yang telah melakukan usaha-usaha untuk menuju ke sana, namun karena pemahaman yang salah terhadap hakikat jalan itu maka akhirnya mereka pun tidak sampai kepada tujuan, bahkan mereka tersesat disebabkan berbagai perbuatan bid’ah yang mereka ada-adakan.

Sesungguhnya setiap kaum muslimin yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat, menginginkan tegaknya kalimat kebenaran, bermaksud untuk mengembalikan kaum muslimin kepada Islam, ingin menghambakan manusia kepada Rabb mereka, menginginkan surga dan ridha-Nya serta terhindar dari kesesatan dan jauh dari neraka-Nya, adalah sangat membutuhkan ilmu yang akan menunjuki dan menjelaskan kepadanya bagaimana dia menjalankan aktivitas dalam hidupnya.

Maka mengapa mereka tidak mengambil warisan yang telah ditinggalkan oleh penghulu umat ini sebagai bekal dan pemimpin yang akan menghantarkan dan membimbingnya kepada sasaran dan tujuan di dalam hidupnya? Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda:

“Sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak.”

Alangkah indah dan bagusnya apa yang telah disifatkan oleh Mu’adz bin JabalRadhiyallahu ‘anhu tentang ilmu:

“Dengan ilmu terjalin silaturrahim dan diketahui yang halal dari yang haram. Ilmu adalah pemimpin, sedangkan amal adalah pengikutnya. Ilmu itu diberikan kepada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka.”

Ketika kaum muslimin telah enggan dan mengabaikan urusan menuntut ilmu yang merupakan warisan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentu yang terjadi adalah kerusakan di tengah-tengah kehidupan kaum muslimin, tidak akan membawa kebaikan. Tentu akan merugikan, tidak akan beruntung dan tidak bermanfaat, dan tentu akan tersesat, tidak mendapat petunjuk, karena orang yang rajin beribadah namun tidak berilmu, ibadahnya tidak disertai dengan ilmu itu seperti orang yang berjalan bukan pada jalannya. Benarlah Ibnu Rajab Al-Hambali ketika berkata: “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang dikiranya jalan menuju surga, tanpa mempunyai ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang sangat sukar dan berat, meski demikian tidak akan menyampaikan kepada tujuan.”

Maka barangsiapa yang berjalan menuju Allah dan mengharapkan ridha-Nya, serta menginginkan kehidupan akhirat hendaknya menuntut ilmu. Karena kebutuhannya terhadap ilmu itu lebih besar dari pada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.”

Ibnu Rajab berkata menjelaskan hadits ini: “Ilmu itu menunjukkan jalan kepada Allah dan merupakan salah satu jalan paling dekat dan paling mudah. Maka barangsiapa menggunakan ilmu dan tidak menyimpang darinya, niscaya akan sampai kepada Allah dan surga melalui jalan paling dekat dan mudah.”

Barangsiapa ingin termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa maka ilmu adalah jalan yang akan menghantarkan menuju taqwa. Seorang salaf berkata:“Bagaimana seseorang akan bertaqwa, jika ia tidak mengerti apa yang harus ia jauhi?”sebagaimana pula yang dikatakan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: “Pangkal taqwa adalah: hendaknya seorang hamba mengetahui apa yang harus dijauhinya, kemudian menjauhinya.”

Barangsiapa ingin bertawakkal, ia harus mengetahui apakah tawakal itu, agar ia tidak meninggalkan usaha-usaha yang disyariatkan yang berarti berbuat maksiat. Jangan sampai ia berbuat demikian karena mengiranya sebagai tawakal, seperti orang yang pergi berjihad namun tidak membawa senjata dengan alasan bertawakal kepada Allah.!!!

Barangsiapa ingin menjadi orang yang sabar, maka ilmu adalah kendaraannya untuk menuju sasaran itu, agar ia tidak terjerumus dalam kehinaan dan kenistaan karena mengiranya sebagai kesabaran. Tidaklah ada satu amalan pun, kecuali ilmu menjadi petunjuk jalan dan penasihat dalam pelaksanaannya, baik itu amalan hati maupun amalan jasmani. Ilmu adalah pintu bagi setiap perbuatan dan kita telah diperintahkan agar memasuki rumah melalui pintunya.

Karena itu kedudukan orang-orang yang berilmu sangat tinggi, sampai-sampai mereka menjadi pewaris para Nabi. Al-Qur’an tidak menyamakan antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. “Katakanlah: apakah sama orang-orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?” (Az-Zumar: 9) ini adalah pertanyaan dari Allah yang tidak membutuhkan jawaban karena tidaklah sama antara orang-orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

Bahkan Al-Qur’an membatasi rasa takut kepada Allah hanya terdapat di kalangan mereka. ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘ulama’ (Fathir: 28). Oleh karena itu, ilmu dan ‘ulama’ sangatlah penting, sehingga dikatakan bahwa seorang yang berilmu itu lebih berat bagi setan dari pada seribu orang yang ahli ibadah. Karena itu pula sahabat Ali membagi manusia menjadi tiga golongan, yaitu: “ulama’ rabbani, orang yang belajar di atas jalan keselamatan, dan orang-orang barbar yang tidak mengenal aturan, yang mengikuti siapa saja yang menggembalakannya.”

Lantas ilmu apakah yang harus dipelajari? Ilmu yang harus dipelajari adalah ilmu tentang Allah dan tentang perintah serta larangan-Nya. Ilmu tentang Allah adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Itu adalah ilmu yang paling mulia dan paling tinggi tingkatannya. Banyak orang dari kalangan salaf yang berkata: “ilmu bukanlah banyaknya cerita, tetapi ilmu itu adalah rasa takut (kepada Allah).” Adapula yang mengatakan: “cukuplah rasa takut kepada Allah itu sebagai ilmu.”

Adapun ilmu tentang perintah Allah adalah ilmu tentang halal dan haram, tentang bermacam-macam hukum syariat, cara menyimpulkannya dan sebagainya. Setiap muslim wajib mengetahui semua ilmu yang menyebabkan amal ibadah dan muamalahnya dilaksanakan dengan benar. Ia harus mempelajari ilmu yang diperlukan dalam ibadah seperti bersuci, shalat, puasa, zakat dan sebagainya.

Setiap muslim yang berdagang wajib mempelajari jual beli yang halal dan yang haram. Karena itu Ibnu Umar berkata: “jangan boleh berjualan di pasar kita kecuali orang yang mengerti tentang agama.”

Imam Ahmad bin Hambal berkata: ”ilmu yang wajib diketahui seseorang adalah tentang apa yang wajib dilaksanakannya dalam shalatnya dan menegakkan agamanya.”
Walallahu A’lam Bishshawab

Oleh : Abu Hadfie Al-Firdaus

Leave a Reply